Pages

Wednesday, January 25, 2012

The '+' Project: Penerapan Konservasi Air pada Rumah Tinggal

'+' Project merupakan suatu sayembara yang diadakan oleh Phillips yang berdasarkan keterangan pada situsnya, ‘+’ Project merupakan komitmen Phillips untuk mengajak masyarakat Indonesia dalam meningkatkan kualitas kesehatan dan kesejahteraan bangsa Indonesia. Fokus program ini terletak pada Kota Layak Huni, Hidup Sehat, dan Akses layanan kesehatan. Cara mengikuti sayembara ini adalah dengan mengirimkan ide seputar cara untuk mengatasi tantangan-tantangan yang dihadapi Indonesia saat ini. Finalis dari sayembara ini berkesempatan untuk menjadi bagian dari tim Philips untuk mewujudkan idenya menjadi kenyataan.



Ide yang saya masukkan sebenarnya berasal dari makalah yang dibuat untuk kuliah Arsitektur Teknologi dan telah dipublikasikan di 4th Environmental Technology and Management Conference, Aula Barat, ITB pada tanggal 3 November 2011 dengan judul "Finding The Most Appropriate Method of Water Conservation in Indonesia: A Literature Review Study". Pada dasarnya saya memasukkan ide yang berasal dari makalah untuk awareness terhadap masyarakat bahwa kita tengah mengalami krisis air dan konservasi air harus dimulai sedari dini. Tulisan di bawah ini merupakan ide yang dimasukkan dalam sayembara '+' Project Phillips.

Sebuah kota yang layak huni tentu saja merupakan kota yang telah terpenuhinya prasarana lingkungan atau sarana dasarnya, sehingga pada akhirnya kota tersebut nyaman dan aman untuk ditinggali. Penyediaan air bersih merupakan salah satu prasarana lingkungan yang harus terpenuhi agar suatu kota layak huni. Hal ini disebabkan air merupakan aspek yang paling penting dalam kehidupan manusia, bahkan manusia tidak dapat hidup tanpa air.

Meskipun demikian, tanpa disadari manusia tidak bijak dalam menggunakan air untuk kehidupan sehari-harinya, karena merasa bahwa air akan selalu ada untuknya, tetapi pada kenyataannya krisis air bersih melanda banyak negara, termasuk Indonesia. Menurut artikel di Majalah Tempo, Water.org, lembaga non-profit asal Kansas, Amerika Serikat, menaksir saat ini satu dari delapan orang di dunia tidak bisa memperoleh air minum yang aman. Akhir tahun lalu, World Water Development Report 2010 melaporkan sekitar 4000 anak meninggal setiap hari akibat air kotor atau kebersihan yang buruk di seluruh dunia. Bila masalah ini tak diatasi, pada 2050 seperempat penduduk dunia akan tinggal di negara yang mengalami krisis air bersih.

Salah satu penyebabnya adalah cara masyarakat Indonesia dalam mendapatkan air bersih yang tidak bijaksana, yaitu dengan cara melakukan pengeboran tanah kemudian memompa air bersih yang ditemukannya untuk kebutuhan sehari-hari. Selain itu, pembangunan di kota-kota besar Indonesia yang sangat pesat menghilangkan satu persatu lahan kosong yang ada dan kota menjadi semakin padat, bahkan telah merambah ke kawasan Utara yang merupakan area resapan air hujan. Semakin berkurangnya area resapan air hujan membuat siklus hidrologi menjadi terganggu. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila hujan, jalan-jalan raya dipenuhi dengan genangan air, bahkan di beberapa kawasan yang dulunya tidak pernah mengalami banjir, kini terjadi banjir yang cukup tinggi. Banjir dan aliran permukaan (
surface runoff) tersebut terbuang percuma dan hanya memberikan dampak yang negatif pada masyarakat.

Air bersih yang didapatkan dari tanah, selain untuk minum, memasak, mencuci, dan mandi, digunakan pula untuk kebutuhan lain seperti flushing, mengairi tanaman, mencuci mobil, mengepel lantai, dan sebagainya. Padahal untuk kebutuhan tersebut sebenarnya tidak memerlukan air yang cukup ‘bersih’, apalagi kebutuhan tersebut memerlukan volume air yang cukup banyak.

Oleh karena itu, sangat disayangkan apabila air sebagai hasil hujan yang melimpah tersebut terbuang dengan percuma, tanpa masyarakat mendapatkan manfaat darinya. Padahal di bagian dunia lain, banyak masyarakat yang mengalami kekeringan dan sulit mendapatkan akses ke air. Dengan demikian, konservasi terhadap air menjadi sangat penting dan harus mulai diterapkan di Indonesia, dimulai dari skala rumah tinggal terlebih dahulu. Berikut merupakan metode konservasi air yang kurang lebih cocok apabila diterapkan di Indonesia: 


Water Harvesting atau Sistem Pengumpulan Air Hujan (SPAH) Sederhana 

                                             Sumber: Oo, 2010

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, dengan curah hujan Indonesia yang tinggi sepanjang tahun dan persediaan air tanah yang semakin lama semakin berkurang, maka water harvesting ini sangat dianjurkan untuk diterapkan di Indonesia. Pada umumnya, secara tak sadar masyarakat Indonesia telah menerapkan memanen air secara konvensional, yaitu dengan menaruh ember-ember besar di halaman rumahnya. Air hujan yang telah terkumpul tersebut biasanya digunakan untuk menyirami taman, membersihkan lantai, dan kegiatan lain yang sebenarnya tidak memerlukan air dengan kualitas untuk diminum. Bahkan, konservasi air dapat dilakukan juga dengan cara menampung air bekas wudhu dan kemudian air tersebut digunakan untuk menyiram taman. 


Sistem Pengumpulan Air Pasif 


                                           Sumber: Kinkade-Levario, 2007

Selain pengumpulan air secara aktif, dapat dilakukan pula pengumpulan air secara pasif yaitu dengan mengalirkan air hujan yang turun pada perkerasan ke permukaan tanah, yaitu dengan
site grading dan penggunaan material perkerasan yang menyerap air, seperti grass block dan paving block.

Penggunaan Air Kembali (Reuse Water


                             Sumber: Puslitbangkim, 2011

Metode konservasi air yang berupa reuse water dapat diterapkan pula di Indonesia, salah satunya yaitu dengan menggunakan teknologi pengolahan limbah air tangga dengan media kontak, yang dinamakan biority. Penggunaan air kembali di hunian pribadi seharusnya diajukan sebagai peraturan, walaupun pelaksanaan dan akibat dari penggunaan kembali air di Indonesia harus diteliti secara mendalam, terutama yang berhubungan dengan resiko terhadap kesehatan yang dapat terjadi karena penerapan yang tidak sesuai. 


Mengurangi Konsumsi Air 



                          Sumber: Toto, 2011

 Penggunaan fixture yang dapat menghemat penggunaan air mulai digunakan di Indonesia, terutama pada bangunan-bangunan komersial, seperti penggunaan toilet dual flush dan eco washer, kran dengan push tap dan self closing. Harga fixture yang hemat air semakin lama dapat dijangkau oleh masyarakat, bahkan kini sebagian besar toilet yang dijual di pasaran Indonesia menggunakan dual flush dan beberapa perusahaan sanitair bahkan menjual toilet satu paket dengan eco washer dan harga lebih murah. Dengan demikian, peran perusahaan sanitair di Indonesia sangat berperan dalam penyediaan fixture yang dapat menghemat penggunaan air.

Pembuatan Sumur Resapan dan Lubang Resapan Biopori (LRB)


Dalam rangka konservasi air, sekarang ini pemerintah menganjurkan masyarakat untuk membuat sumur resapan di halaman rumahnya. Tujuan pembangunan sumur resapan ini guna meningkatkan muka air tanah agar pada saat kekeringan kita masih bisa menikmati air. Di samping itu pembuatan sumur resapan sangat cocok dengan tingkat kepadatan penduduk dan tingkat kepadatan pemukiman yang cukup tinggi. Setiap rumah/bangunan per luas 50 m2, dibutuhkan 1 unit sumur resapan dengan volume 1 m3. Selain itu, menurut artikel di Kompasiana, terdapat cara lain yaitu Lubang Resapan Biopori (LRB) adalah lubang yang dibuat tegak lurus ke dalam tanah diameter 10 cm kedalaman 1 meter, waktu yang diperlukan hanya 8 menit. Luas bangunan per 7 m2 diperlukan 1 unit LRB. Cara lain adalah dengan menanami beberapa jenis tanaman di halaman rumah sehingga tidak seluruh halaman diberi perkerasan (hardscapes) dan tetap terdapat area resapan air hujan. 



Sumber: Savitri, 2009

Selain itu, menurut Vale dan Vale dalam bukunya Time to Eat The Dog? The Real Guide to Sustainable Living, perilaku dalam penggunaan air merupakan hal yang paling penting untuk mendukung konservasi air, karena tidak memberikan kontribusi apapun dengan penggunaan metode konservasi air yang paling canggih dan mahal sekalipun, tanpa perilaku yang sejalan dari penggunanya. Penggunaan fixture yang dapat menghemat air apabila digunakan dalam jangka waktu yang lama, akan menjadi tidak efektif, bergantung dari perilaku penggunanya.

Apalah arti suatu kota yang layak huni apabila mengalami krisis air bersih? Oleh karena itu, konservasi air harus mulai diterapkan di Indonesia sedari dini dari hal yang paling sederhana di skala rumah tangga. 


Sebenarnya masih banyak ide yang bisa disumbangkan ke sayembara ini, mungkin akan memasukkan ide untuk kategori yang lain. Untuk sementara, mohon bantuannya untuk memilih ide saya ini disini, mudah-mudahan bisa menjadi salah satu finalis atau paling tidak pesannya sudah terkomunikasikan.


57 Ways Conserve Water In And Atound The Home. (t.thn.). Dipetik May 1, 2011, dari This Land: http://www.thisland.illinois.edu/57ways/57ways_57.html
Hui, S. (1996, December). Water Conservation Method. Dipetik December 31, 2005, dari Sustainable Architecture: http://www.arch.hku.hk/research/BEER/sustain.htm
Kapal Taman Pembersih Limbah. (2011, Maret 14-20). Majalah Tempo . Jakarta, Indonesia: PT. Temprint.
Kim J J, Rigdon B. (1998, December). Introduction to Sustainable Design. Sustainable Architecture Module . Ann Arbor, Michigan, United States of America: National Pollution Prevention Center for Higher Education.
Kinkade-Levario, H. (2007). Design for Water: Rainwater Harvesting, Stormwater Catchment, and Alternate Water Reuse. Gabriola Island: New Society Publishers.
Riefkaulia. (2010, September 14). Airku, Airmu, Air Kita. Dipetik May 1, 2011, dari Kompasiana: http://green.kompasiana.com/group/iklim/2010/09/12/airku-airmu-air-kita/ 

Surya, F. (2008, July). Finding Sustainable Solutions for Situ Babakan: A preventive approach towards slum forming in kampong peripheries in Jakarta.
Vale R, Vale B. (2009). Time to Eat The Dog? The Real Guide to Sustainable Living. London: Thames & Hudson Ltd.





No comments: