Pages

Thursday, January 26, 2012

Hubungan antara Industri Konstruksi dan Sektor Lainnya di Indonesia

 Makalah ini merupakan tugas dari mata kuliah Industri Konstruksi dan Pembangunan, SAPPK Institut Teknologi Bandung pada tahun 2010, ditulis oleh Alia Widyarini Hapsariniaty, Monike Kusna, dan Johanita Anggia
 
Industri Konstruksi sebagai Indikator Utama Perekonomian dan Keterkaitannya dengan Sektor lainnya

Industri konstruksi merupakan salah satu sektor industri yang memegang peranan penting dalam perekonomian. Pada tahun yang lalu, laju pertumbuhan sektor konstruksi mencapai 7.1%-10%, menyumbang 0,4 % dari laju ekonomi 2009 sebesar 4,5%. Data Badan Pusat Statistisk (BPS) menyebutkan sektor ini mampu memberi sumbangan pada penyerapan tenaga kerja langsung hingga 4%-5% dan dianggap memiliki peran sentral terhadap sektor lainnya. Dengan demikian, sektor industri ini dapat dijadikan sebagai indikator seberapa aktifnya kegiatan ekonomi yang sedang berlangsung. Selain itu, dampak yang dihasilkannya terhadap perekonomian melebihi daripada kegiatan konstruksi itu sendiri, yaitu dapat menjadi pendorong sektor-sektor yang terkait lainnya (multiplier effect). Seluruh kegiatan ekonomi, baik barang maupun jasa akan membutuhkan produk dari industri konstruksi sebagai faktor produksi.

Dampak yang dihasilkan dari efek pelipatgandaan (multiplier effect) dari sektor industri konstruksi tidak selalu bersifat positif, namun dapat juga bersifat negatif, dimana terjadi peningkatan pada industri konstruksi yang tidak terkendali, sehingga timbulnya melampaui batas (over supply), sehingga mengganggu perekonomian nasional.

Keterkaitan terhadap sektor-sektor lainnya, sehingga terjadinya efek pelipatgandaan terdapat dua macam, yaitu sisi keterkaitan ke belakang (backward linkages) dan sisi keterkaitan di depan (forward linkages). Keterkaitan ke belakang menunjukan daya penyebar, artinya kalau terjadi peningkatan permintaan akhir terhadap suatu sektor tertentu maka sektor tersebut akan mendorong peningkatan output semua sektor dengan kelipatan sebesar nilai multipliernya. Berbeda halnya dengan sisi keterkaitan ke depan (forward linkages) menunjukkan derajat kepekaan suatu sektor tertentu terhadap permintaan akhir semua sektor-sektor lainnya. Dengan kata lain, jika terjadi kenaikan permintaan akhir pada semua sektor produksi maka suatu sektor tertentu akan memberikan respon dengan menaikan output sektor tersebut dengan kelipatan sebesar koefisien keterkaitannya.

Sektor industri konstruksi memiliki backward linkages yang tinggi dibandingkan dengan sektor-sektor lain sejenis, seperti listrik, gas dan air; sektor keuangan dan perbankan, sektor perdagangan, restoran dan hotel; sektor transportasi dan komunikasi, sedangkan sebagai forward linkages industri konstruksi memiliki derajat kepekaan yang rendah bila dibandingkan dengan sektor-sektor industri lainnya. Dengan demikian, karena industri konstruksi memiliki daya penyebar (backward linkages) yang tinggi itulah, maka industri konstruksi merupakan sektor industri yang menjadi indikator utama dari pertumbuhan perekonomian pada suatu negara seperti yang telah disebutkan di atas. Backward linkages dari industri konstruksi terutama pada sektor pertambangan (sumber material bangunan), jasa konsultan arsitektur, jasa hukum, dan asuransi.

Siklus Properti

Industri konstruksi sangat berhubungan erat dengan sektor properti, karena sebagian besar kegiatan konstruksi terjadi pada sektor properti tersebut. Pada properti terdapat suatu siklus yang pada dasarnya mempengaruhi perekonomian negara dan pada akhirnya mempengaruhi sektor-sektor industri lainnya. Oleh karena itu, perlu dipelajari siklus properti dalam memahami pengaruh industri konstruksi pada sektor-sektor lainnya.

Dalam siklus properti sesungguhnya terdapat tiga kondisi pasar yang terjadi yaitu Recession, Recovery, Boom Market. (Grahandaka, 2010). Keadaan resesi adalah keadaan dimana terjadi kelesuan dalam pembelian diakibatkannya terjadi over-supply di dalam penyediaan properti. Hal ini dapat berdampak pada terganggunya perekonomian nasional. Gangguan tersebut khususnya bila terjadi penurunan harga di sektor properti secara drastis dengan terjadinya buble burst. Kondisi ini akan mempengaruhi kondisi keuangan perbankan melalui dua aspek yaitu terganggunya likuiditas dan nilai jaminan bank serta kinerja debitur di bidang properti. (Wuryandani G, Hermanto M J, Prasetya R, 2005)

Setelah mengalami resesi maka kondisi properti akan mengalami pemulihan (recovery) dengan dimulainya proyek-proyek kontruksi properti, adanya permintaan pasar, dan penyerapan produk properti oleh pasar. Masa pemulihan ini berlangsung kurang lebih 1-3 tahun, dimana pada tahun ketiga adalah masa Boom Market, yaitu terjadinya peningkatan pada proyek-proyek konstruksi dan adanya pembiayaan untuk sektor properti yang berlebihan.

Perkembangan boom-bust industri properti akan mempengaruhi stabilitas di sektor finansial yang pada akhirnya akan berimbas pada stabilitas ekonomi makro. Pada periode pre-krisis, pengembang sangat ekspansif melakukan pembangunan properti dimana sebagian besar pembiayaan menggunakan fasilitas perbankan baik dalam Rupiah maupun valuta asing.

Untuk itu perlu diketahui perilaku pembentukan supply (sisi penawaran) maupun demand (sisi permintaan) dalam industri properti, yang secara langsung akan mempengaruhi siklus boom-bust dalam industri properti. Perkembangan industri properti dipengaruhi antara lain oleh ekspektasi dan spekulasi baik dari sisi demand maupun supply. Gejolak harga dalam industri properti akan mempengaruhi kondisi ekonomi, dimana dalam kondisi terjadi penurunan harga secara tajam merupakan sinyal bahwa perekonomian akanmengalami permasalahan yang serius dan sebaliknya apabila terjadi peningkatan harga secara cepat mengindikasikan telah terjadi spekulasi yang tinggi dalam industri properti. (Wuryandani G, Hermanto M J, Prasetya R, 2005)

Hubungan antara Industri Konstruksi dengan Sektor lainnya di Indonesia

Untuk mengetahui hubungan antara industri konstruksi dengan sektor lainnya, maka diambil data dari World Bank yang berupa Gross Capital Formation yang mewakili industri konstruksi dan juga data sektor lainnya dalam kurun waktu kurang lebih 10 tahun, yaitu dari tahun 1995–2008. Data yang diambil merupakan persentase angka terhadap Gross Domestic Product (GDP) dari sektor-sektor tersebut.

Gross Capital Formation adalah aset tetap dari ekonomi, yang termasuk di dalamnya adalah perbaikan pada lahan (pagar, saluran air, dsb); pabrik, mesin dan pembelian peralatan; serta konstruksi jalan, rel kereta, dan sejenisnya, seperti sekolah, perkantoran, rumah sakit, rumah tinggal, dan komersial, serta bangunan industri.

1. Resesi Ekonomi Indonesia 1997-1999

a. Central Government Debt
Pada tahun 1997-1998, Indonesia mengalami resesi ekonomi menurut Tarmidi L T, 1998, penyebab utama dari terjadinya krisis yang berkepanjangan ini adalah merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang sangat tajam, meskipun ini bukan faktor satu-satunya, tetapi ada banyak faktor lainnya yang berbeda menurut sisi pandang masing-masing pengamat. Salah satu diantaranya adalah utang luar negeri swasta jangka pendek dan menengah sehingga nilai tukar rupiah mendapat tekanan yang berat karena tidak tersedia cukup devisa untuk membayar utang yang jatuh tempo beserta bunganya (bandingkan juga Wessel et al.: 22), ditambah sistim perbankan nasional yang lemah. Akumulasi utang swasta luar negeri yang sejak awal tahun 1990-an telah mencapai jumlah yang sangat besar, bahkan sudah jauh melampaui utang resmi pemerintah yang beberapa tahun terakhir malah sedikit berkurang (oustanding official debt). Hal ini dapat kita lihat dari grafik 1, pada tahun 1996-1997 terdapat kenaikan yang sangat signifikan dalam Central Government Debt (% of GDP).

b. Gross Capital Formation
Pinjaman luar negeri dan dana masyarakat yang masuk ke sistim perbankan, banyak yang dikelola secara tidak prudent, yakni disalurkan ke kegiatan grupnya sendiri dan untuk proyek-proyek pembangunan realestat dan kondomium secara berlebihan sehingga jauh melampaui daya beli masyarakat, kemudian macet dan uangnya tidak kembali (Nasution: 28; Ehrke: 3). Pinjaman-pinjaman luar negeri dalam jumlah relatif besar yang dilakukan oleh sistim perbankan sebagian disalurkan ke sektor investasi yang tidak menghasilkan devisa (non-traded goods) di bidang tanah seperti pembangunan hotel, resort pariwisata, taman hiburan, taman industri, shopping malls dan real estat (Nasution: 9; IMF Research Department Staff: 10). Dari uraian ini dapat kita ketahui bahwa pada masa tersebut terjadi yang boom di sektor properti, akibatnya adanya dana pinjaman ke sektor ini yang terus mengalir. Namun, karena terjadi over-supply, dimana harga properti jauh di atas kemampuan daya beli masyarakat, maka yang terjadi adalah resesi ekonomi, seperti yang telah dijelaskan dalam teori mengenai siklus ekonomi di atas.

Grafik 2, menunjukkan Gross Capital Formation (% of GDP) dari tahun 1960-2008, dapat dilihat bahwa walaupun pada tahun 1960-1966 terjadi fluktuasi, namun dari tahun 1966-1997 Gross Capital Formation terus mengalami kenaikan persentase dari 5.3 sampai dengan 31.8 dan puncaknya adalah pada tahun 1997 tersebut. Hal ini, seperti telah disebutkan karena meningkatnya pembangunan di sektor properti akibat adanya aliran dana secara besar-besaran ke sektor ini.

Pada grafik 1, dapat dilihat bahwa grafik menurun secara signifikan pada tahun 1997-1999 dari 31.8 % menjadi 11.4 %. Prosentase yang sama terjadi pada Gross Capital Formation pada tahun 1968 atau 31 tahun yang lalu.

a. Cash Surplus/Defisit
Defisit neraca berjalan yang semakin membesar (IMF Research Department Staff: 10; IDE), yang disebabkan karena laju peningkatan impor barang dan jasa lebih besar dari ekspor dan melonjaknya pembayaran bunga pinjaman. (Tarmidi L T, 1998) Menurut grafik 1, Cash Surplus/Defisit (% of GDP) terus mengalami penurunan terutama pada tahun 1997-1999 sampai dengan -2.5 %.

b. Sektor Industri lainnya (Ekspor, Impor, Pertanian, Jasa, dsb)
Menurut grafik 1, pada sektor industri lainnya yang mengalami penurunan pada tahun 1997-1998 adalah sektor jasa atau Services, etc Value Added (% of GDP), tetapi penurunan yang dialaminya tidak terlalu signifikan seperti halnya Gross Capital Formation (% of GDP) yaitu hanya sebesar 2.9% dari 39.6 % menjadi 36.7%. Hal ini disebabkan, sektor ini tidak terlalu terkena dampak dari resesi ekonomi, dimana masyarakat masih memerlukan barang-barang untuk kebutuhan sehari-harinya dan karena nilai tukar Rupiah yang rendah, maka banyak turis-turis asing yang berlibur ke Indonesia, sehingga pada sektor jasa ini tidak terjadi penurunan yang cukup signifikan.

Untuk sektor yang lainnya, seperti export in goods and services, import in good and services, trade in services, dan industry justru mengalami kenaikan yang signifikan pada tahun 1997-1998, sedangkan pertanian mengalami kenaikan pada tahun 1997-1999. Kenaikan pada tahun 1997-1998 di sektor tersebut mungkin disebabkan karena adanya pinjaman dana luar negeri besar-besaran pada tahun 1996-1997 yang berimplikasi pada adanya kenaikan di sektor tersebut di atas. Ekspor meningkat karena mata uang rupiah yang rendah, sehingga menguntungkan eksportir, begitu pula halnya dengan importir. Namun, nilai tukar rupiah yang sangat overvalued, membuat harga barang-barang impor menjadi relatif murah dibandingkan dengan produk dalam negeri, sehingga impor meningkat pada tahun tersebut. Trade in services sudah pasti meningkat apabila ekspor dan impor meningkat.

Seperti yang telah disebutkan di atas, grafik 1 ini menunjukkan bagaimana Gross Capital Formation yang dipakai untuk mewakili industri konstruksi merupakan indikator utama dalam perekonomian Indonesia, walaupun sumbangan yang diberikan tidak sebesar sektor lain, seperti pertambangan. Hal ini dapat dilihat bagaimana Gross Capital Formation pada tahun 1997-1999 mengalami penurunan, sedangkan sektor-sektor yang lain mengalami penaikan, yang kemudian pada tahun berikutnya turut mengalami penurunan. Hal ini membuktikan pula teori mengenai siklus properti atau ekonomi, dimana setelah mengalami boom, maka ia akan terjadi resesi.

Teori lain yang dibuktikan oleh grafik ini adalah bahwa industri konstruksi memberikan efek pelipatgandaan (multiplier effect), dimana ketika ia mengalami penurunan, maka sektor-sektor lainnya juga mengalami akan mengalami penurunan. Hal ini juga disebabkan karena industri konstruksi memiliki backward linkages yang tinggi.

2. Perkembangan Ekonomi tahun 2000-2008
Pada rentang tahun ini, pada grafik 1 tidak terlalu fluktuatif bila dibandingkan dengan tahun 1997-1999. Hal ini disebabkan karena pemerintah paling tidak sudah belajar dari kesalahan yang dilakukannya pada masa resesi terdahulu. Pada tahun 1999-2000, grafik di semua sektor cenderung meningkat karena pada masa tersebut Indonesia mengalami masa pemulihan. Membaiknya kondisi ekonomi tersebut tercermin dari indikator makro ekonomi seperti inflasi dan suku bunga yang lebih rendah serta nilai tukar yang relatif lebih stabil dibandingkan pada periode krisis tahun 1998. Pertumbuhan ekonomi juga mengalami perkembangan yang terus meningkat setelah pada tahun 1998 mengalami pertumbuhan negatif secara mendalam. (Wuryandani G, Hermanto M J, Prasetya R, 2005)

Masa pemulihan Indonesia berjalan relatif lambat bila dibandingkan dengan negara-negara tetangga lainnya dan belum kembali ke masa sebelum krisis. Pada tabel 1, dapat kita lihat bahwa sektor bangunan meningkat cukup baik mengalami pertumbuhan tahunan (year on year) 8.17 % dan menurun cukup signifikan menjadi sekitar 6.31% di triwulan III tahun 2005. Secara urutan, pertumbuhan sektor properti (bangunan) tersebut masih cukup baik setelah pertumbuhan tertinggi pada sektor pengangkutan, listrik, keuangan dan perdagangan. Pada grafik 1, dapat dilihat pada GDP (growth annual) pada tahun 2004-2005 secara general semua sektor mengalami kenaikan walaupun tidak signifikan sekitar 0.7 %.

Kapitalisasi properti nasional secara umum masih mengalami peningkatan dengan pertumbuhan tertinggi terjadi pada tahun 2004. Periode pasca krisis, sampai dengan tahun 2005 (perkiraan) total kapitalisasi properti diperkirakan akan mencapai sekitar Rp.241.154 miliar. Berdasarkan data ini, perkembangan yang signifikan khususnya terjadi pada segmen shopping mall (pusat perbelanjaan) yang mengalami peningkatankapitalisasi sangat cepat khususnya sejak tahun 2003, namun di tahun 2005 ini

diperkirakan akan mengalami perlambatan. Demikian pula dengan segmen apartemen dan perumahan di Jabotabek mengalami peningkatan yang sangat signifikan ditahun 2003 dan 2004, yang menunjukkan bahwa daya beli masyarakat pada periode tersebut semakin meningkat. (Wuryandani G, Hermanto M J, Prasetya R, 2005)

Hal ini sesuai dengan grafik 1, dimana Gross Capital Formation (% of GDP) tertinggi pada tahun 2003 dan mengalami penurunan pada tahun 2004, dan pada tahun 2005 mengalami kenaikan, sampai dengan tahun 2008, walaupun tidak terlalu signifikan. Sektor lainnya yang juga grafiknya cukup tinggi pada tahun 2003 adalah Services, etc, value added, sementara ekspor, impor, trade in services, dan industri justru mengalami penurunan (dengan grafik yang rendah dibandingkan tahun-tahun lainnya) dan kemudian mengalami kenaikan dengan puncaknya pada tahun 2005. Seperti telah disebutkan di atas perbedaan ini disebabkan karena apabila terjadi penurunan dalam ekonomi sektor yang pertama terkena dampaknya adalah sektor industri konstruksi yang kemudian disusul dengan sektor lainnya.

Kesimpulan

Grafik 1 di atas menjelaskan teori-teori yang ada mengenai industri konstruksi dan kaitannya dengan sektor lainnya. Dapat disimpulkan bahwa berdasarkan grafik 1, industri konstruksi yang diwakili oleh data Gross Capital Formation (% of GDP) menrupakan indikator utama dalam pertumbuhan ekonomi dan memliliki efek pelipatgandaan (multiplier effect) terutama pada pendapatan dan kesempatan kerja serta backward linkages yang tinggi dalam mempengaruhi sektor-sektor lainnya.

Daftar Pustaka

Wuryandani G, Hermanto M J, Prasetya R, 2005, “Perilaku Pembiayaan dalam Industri Konstruksi”

Tarmidi L T, 2008, “Krisis Moneter Indonesia: Sebab, Dampak, Peran IMF dan Saran”, Revisi dan updating dari pidato pengukuhan Guru Besar Madya pada FEUI

Grahandaka M, 2010, “Melihat Alur Siklus Properti”, vibiznews.com

World Development Indicators - http://data.worldbank.org/

No comments: