Pages

Saturday, April 13, 2013

Comparative Analysis of Preferences to Live in Gated Communities: A Case Study of Bandung Metropolitan Area


Abstrak ini diambil dari makalah yang  dipublikasikan pada AMER International Conference on Quality of Life pada tanggal 6 April 2013 di Holiday Villa Spa & Resort, Langkawi, Malaysia yang disusun oleh Alia Widyarini Hapsariniaty.

Gated communities are term given to gated residential developments with limited access, known as residential cluster or cul-de-sac in Indonesia. It has become a global phenomenon occurring in many countries around the world. The rise of gated communities usually associated with security and safety issues and low environment quality in urban areas, such as congestion and noise.

Nowadays, most of the new housing developments in Bandung metropolitan area are gated communities. These gated communities usually built on a relatively small plot of land with the size of the development smaller than 2 hectares, with a small number of housing units. Middle class that are growing in Indonesia is encouraging the development of these housing clusters. The size of the dwelling and the facilities provided are also particularly limited and tends to support the form of a small nuclear family.

Thursday, November 22, 2012

Studi Mengenai Konsep Community Malls di Kota Bangkok, Thailand dan Bandung, Indonesia


Abstrak ini diambil dari makalah yang  dipublikasikan pada Temu Ilmiah Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI) pada tanggal 3 November 2012 di Galeri Arsitektur, Institut Teknologi Bandung yang disusun oleh Alia Widyarini Hapsariniaty dan Aswin Rahadi

Bangkok merupakan salah satu kota terbesar di Asia Tenggara, yang menghadapi permasalahan klasik berupa kemacetan lalu lintas. Salah satu upaya yang dilakukan oleh properti developer disana adalah dengan menciptakan hub-hub kecil berupa community malls, memanfaatkan hub-hub Bangkok Train System (BTS) untuk mendekatkan jarak temu antar warga kota Bangkok yang ingin berinteraksi. Paper ini mencoba menganalisa lebih jauh mengenai konsep community malls di Bangkok, bagaimana karakteristiknya, dan mencoba membandingkannya dengan konsep mall yang serupa yang ada di Bandung. Dari hasil penelitian pendek ini, didapatkan kesimpulan bahwa konsep community mall baru dapat dilaksanakan, apabila didukung dengan sistem transportasi publik yang cukup baik. Hal ini yang menyebabkan mengapa konsep community mall di Bandung belum dapat terimplementasikan dengan baik.

Untuk makalah lengkap dapat dilihat disini

Wednesday, October 10, 2012

Kampung Braga dan Kawasan Tepi Air Cikapundung yang Berkelanjutan sebagai Kawasan Tujuan Wisata di Bandung

Abstrak ini diambil dari makalah yang  dipublikasikan pada Seminar Nasional Cities 2012 di Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota, Institut Teknologi Sepuluh November, Surabaya, Indonesia tanggal 19 September 2012 dan ditulis oleh Alia Widyarini Hapsariniaty, Puspita Sadarpo, Irma Subagio, Monike Kusna

Kampung Braga merupakan kawasan yang berdekatan dengan jalan Braga, yaitu kawasan yang menjadi salah satu tujuan wisata di Bandung, selain itu kawasan ini juga berada di tepi air sungai Cikapundung. Kawasan ini memiliki kepadatan hunian yang cukup tinggi dan kondisi lingkungan fisik yang kurang baik. Oleh karena itu, makalah ini mencoba untuk mengidentifikasi berbagai kekuatan dan kekurangan yang ada pada kampung Braga dengan letaknya yang cukup strategis dan berdekatan dengan kawasan tujuan wisata. Hasilnya adalah kampung Braga memiliki potensi untuk dijadikan kampung kota yang berkelanjutan dan kawasan tujuan wisata di Bandung. Program yang dilaksanakan untuk mendukung konsep tersebut adalah dengan: penataan kawasan di tepi air sungai Cikapundung; perbaikan kondisi fisik kawasan permukiman, serta Prasarana dan Sarana Umum (PSU ); dan perbaikan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat.

Sleep Early, Wake Up Early Movement! How to Cope with Health and Traffic Problem in Cities

Abtrak ini diambil dari makalah yang  dipublikasikan pada Seminar Nasional Cities 2012 di Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota, Institut Teknologi Sepuluh November, Surabaya, Indonesia tanggal 19 September 2012 dan ditulis oleh Aswin Rahadi, Alia Widyarini Hapsariniaty, Siti Larissa Sarasvati, Siti Kania Mevianti, Muhammad Iwan Aryanggi, Tara Putri Paramitha

“Early to bed and early to rise makes and man healthy, wealthy and wise” – Ben Franklin

Our life began when we are waking up. In general, the habits of waking up can be generalized into two group categories; the early riser and the night owl, with both of these groups have their own advantages/disadvantages. This paper is an extension from an idea submitted into Phillips Project + competition which discuss about the phenomenon, and its relationship with our daily activities. What happened in the society nowadays is against the common rules from both aforementioned habits, as we are usually wakes up early and sleep late, due to bad traffic jam or because of workloads of wrong living habits. These habits if not fixed soon, can cause health and mental problem in the future.

Co-Operative Housing Cluster: Renewed Housing Concept for Poverty Alleviation and Economic Development

Abstrak ini diambil dari makalah yang dipublikasikan pada Arte-Polis 4 International Conference di Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan, Institut Teknologi Bandung, Bandung, Indonesia tanggal 6 Juli 2012 dan ditulis oleh Colin Gan, Aswin Rahadi serta Alia Widyarini Hapsariniaty.

Indonesia is a country with population of 245,613,043 (July 2011 est.). Despite GDP growth rate of 6.1% (2010 est.), the poverty rate is 13.33% or 32,666,535 (2010) with unemployment rate of 7.1% or 17,438,526 (2010 est.) of which 22.2% or 3,871,353 (2009) of them are between ages 15-24. Although the country’s population is the 4th largest in the world, the GDP per capita remains at US$ 4,200 (2010 est.)

The need to accommodate people has reached emergency levels in Indonesia. The demand for housing every year is 800,000 units, whereas the supply is no more than 500,000 units. In 2004, Indonesia faced a shortage of 5.4 million houses. In 2010, BPS (Indonesian Central Statistics Agency) recorded the increase in shortage of up to 13.6 million houses.

Turning Road to a Public Place: Case Study of Car Free Day Phenomenon in Bandung

Abstrack ini dimabil dari makalah yang dipublikasikan pada Sustainable, Culture, Architecture and Nature (SCAN) #3 Seminar: "Sticks and Carrots" Reward and Punishment di Atmajaya University, Yogyakarta, Indonesia tanggal 15 May 2012 dan ditulis oleh Aswin Rahadi, Alia Widyarini Hapsariniaty, Siti Larissa Sarasvati, Siti Kania Mevianti, Tara Putri Paramitha.

Due to increased number of population and the decrease of land plots in Indonesia, currently resulted in the increase of land price and value. Besides the problem of decrease land plots, the government also faced problem lack of infrastructures to support the increased number of cars and other vehicles. As a result, public spaces development has been abandoned in favor of infrastructure development.
This is also worsening with the facts that numbers of public spaces in cities around Indonesia has not being able to support the adequate ratio with the growing population.

Thursday, January 26, 2012

Pelaksanaan Proyek Apartemen Bersubsidi berdasarkan Peraturan Pembangunan Rumah Susun Bertingkat Tinggi, Kasus: Apartemen Buah Batu Park, Bandung

Abstrak ini diambil dari makalah yang merupakan tugas dari mata kuliah Manajemen Proses Proyek, SAPPK, Institut Teknologi Bandung tahun 2011, ditulis oleh Alia Widyarini Hapsariniaty, Puspita Darmaningtyas, dan Lestari.

Rumah Susun Sederhana Milik (Rusunami) yang dikenal juga dengan istilah Apartemen bersubsidi atau Low Cost Apartment (LCA) merupakan jenis bangunan yang kini mulai banyak dibangun di kota-kota besar Indonesia. Hal ini disebabkan oleh yang program pemerintah untuk menyediakan perumahan di kawasan pusat aktivitas masyarakat yaitu proyek seribu menara yang dimulai sejak tahun 2007. Sejak mulai program ini mulai diberlakukan sampai dengan tahun 2010, baru 230 apartemen yang terbangun di sepuluh kota besar Indonesia. Program ini menghadapi berbagai kendala dari mulai perizinan, pertanahan, keterpaduan infrastruktur, pajak dan retribusi pusat dan daerah, serta kebijakan pembiayaan. Oleh karena itu, makalah ini akan berusaha membahas bagaimana pelaksanaan pembangunan proyek apartemen bersubsidi dilihat dari peraturan pemerintah tentang penyelenggaraan Rusunami.