Abstrak- Rumah atau home memiliki makna yang berbeda dengan house karena di dalamnya terdapat identitas, hubungan sosial dan makna kolektif, serta di dalamnya terdapat aktivitas kehidupan manusia. Home adalah ruang domestik yang dekat dengan kehidupan manusia dan dipengaruhi oleh budaya. Banyak faktor budaya yang mempengaruhi ruang domestik itu sendiri, seperti: memori dan waktu; sosial, ekonomi dan politik; kebiasaan (habit); teknologi; usia; dan gender. Selain itu, lokasi juga mempengaruhi faktor budaya mana yang secara dominan mempengaruhi ruang domestik. Budaya di satu lokasi berbeda dengan di lokasi lain karena faktor budayanya juga berbeda sehingga menghasilkan ruang domestik yang berbeda pula. Komposisi faktor budaya mana yang dominan menentukan bentukan ruang domestik yang terjadi.
Kata Kunci : Ruang Domestik, Budaya, Rumah
I. Pendahuluan
A. Latar Belakang
Home atau rumah tinggal merupakan organisasi ruang sosial yang memperlihatkan struktur dan fungsi dari masyarakat. Home merupakan situs yang penting dalam organisasi ruang sosial karena disanalah ruang (space) menjadi tempat (place) dan dimana hubungan antar keluarga, gender, dan identitas kelas dinegosiasikan, dikompetisikan, serta diubah. Home merupakan sebuah kondisi aktif dalam ruang dan waktu dalam penciptaan identitas, hubungan sosial, dan makna kolektif. (Cieraad, 1999)
Dengan demikian, home memiliki makna yang berbeda dengan house dan begitu pula makna ruang dan tempat. Menurut Miller (1995) dalam Smyth dan Croft (2006), ruang menjadi bermakna “dengan adanya kehidupan yang menempatinya”. Hal ini mengubah keduanya secara material atau fisik dengan nama dan spiritual atau non fisik dengan terdapatnya nilai kolektif pada spot tersebut. Perkins dkk (2002) menyatakan bahwa untuk membedakannya, ruang adalah sesuatu yang kita diami dan tempat adalah sesuatu yang gagas atau konsepsikan.
Hal ini berkaitan dengan pendapat Bachelard (1994) dan Heiddeger (1993) bahwa house memiliki dua unsur. Menurut Bachelard (1994) dalam Smyth dan Croft (2006) house berupa: bangunan sebenarnya yang terbuat dari material seperti kayu, batu bata, dan batu, dimana memberikan sifat permanen yang memberikan keyakinan bahwa memori tersebut dapat dipelihara dan dipulihkan, digali dari masa lalu; dan entitas imajiner yang mereduksi pengalaman bertempat tinggal pada hal yang terkonsentrasi dan merupakan esensi ideal. Hal ini hampir sama dengan pernyataan Heiddeger (1993) dalam Smyth dan Croft (2006) bahwa house berupa lokasi fisik yang ditandai dengan bangunan dan konsep yang ditandai dengan home.
B. Permasalahan
Berdasarkan pendapat di atas, house dan home, yang dalam bahasa Indonesia keduanya berarti rumah, memiliki makna yang sama sekali berbeda, sehingga pada artikel ini, istilah house dan home tidak diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Dengan demikian yang jadi pertanyaan apakah yang menjadikan suatu house yang bersifat fisik menjadi home yang bersifat konsep? Dalam hal ini, penulis berasumsi bahwa adanya aktivitas manusia yang hidup di dalamnya, dimana berdasarkan Rapoport (1977) aktivitas merupakan elemen untuk mengerti mengenai gaya hidup yang pada akhirnya gaya hidup tersebut merupakan perwujudan dari budaya, nilai-nilai, cara pandang melihat dunia, dan imej atau skema. Oleh karena itu, budaya merupakan faktor paling dominan yang memberikan makna, sehingga house menjadi home dan ruang menjadi tempat.
C. Tujuan
Pada artikel ini, penulis berusaha untuk mengetahui apa hubungan antara ruang domestik dengan budaya dan faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi budaya di dalam ruang domestik. Penulis berusaha memahami hubungan tersebut dengan kajian literatur, sebagian besar berdasarkan buku Our House: The Representation of Domestic Space in Modern Culture (Smyth & Croft, 2006) yang merupakan kumpulan berbagai artikel dengan isu ruang domestik dengan membebaskan penulis untuk melakukan berbagai pendekatan terhadap isu tersebut sesuai dengan persepsinya masing.
Keseluruhan artikel pada buku ini mengacu pada The Poetic of Space (Bachelard, 1958) yang melihat arsitektur tidak dari asal dan teknikalitasnya saja, melainkan bagaimana pengalaman arsitektur manusia yang tinggal di dalamnya mempengaruhi dan membentuk perkembangannya, sehingga buku ini membahas ruang domestik secara fenomenologis. Dengan demikian, penulis berasumsi secara tidak langsung artikel pada buku tersebut memperlihatkan hubungan antara ruang domestik dan budaya, serta faktor-faktor apa yang mempengaruhi budaya modern di dalam ruang domestik, terutama di Inggris. Selain itu, penulis mengambil dua jurnal yang dengan objek mengenai ruang domestik untuk melihat faktor-faktor yang mempengaruhi budaya di negara lain sebagai perbandingan dari hasil pembahasan Our House (Smyth dan Croft, 2006) dengan konteks Inggris.
D. Signifikansi dan Kontribusi
Dari artikel ini diharapkan akan didapatkan berbagai faktor yang mempengaruhi budaya dalam ruang domestik, sehingga akan memberikan pemahaman terhadap budaya yang membuat house menjadi home. Selain itu, dari pembahasan artikel ini akan dilihat perbedaan faktor-faktor yang mempengaruhi budaya di tiga negara, yaitu Inggris, Malaysia, dan Indonesia. Untuk itu penulis berharap artikel ini akan memberikan wawasan baru terhadap budaya dalam kaitannya dengan ruang domestik.
II. Faktor yang Mempengaruhi Budaya dalam Ruang Domestik
Budaya dalam artikel ini bukan berupa “high art” dalam bentuk lukisan, musik klasik, patung, dan drama yang biasa ditemukan di museum, galeri seni, dan teater, tetapi budaya memiliki makna yang lebih luas. Menurut Knox (2010), budaya merupakan fenomena yang kompleks, sehingga sulit untuk disimpulkan begitu saja, tapi dapat diartikan budaya terdiri atas “ways of life”.
Ways of life ini meliputi tiga elemen yang paling penting, yaitu nilai-nilai yang terdapat dalam masyarakat, seperti sesuatu yang dijadikan idealisasi dan aspirasi; norma-norma yang diikuti oleh masyarakat, seperti aturan dan prinsip yang mengatur hidup masyarakat; obyek material yang digunakan masyarakat, contohnya pada masyarakat yang relatif makmur di Barat, hal ini menjadi kategori yang besar, dari barang konsumsi sehari-hari sampai dengan sistem transportasi, bangunan dan fasilitas perkotaan.
Oleh karena itu, berdasarkan Smyth dan Croft (2006) terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi budaya di dalam ruang domestik yaitu: memori dan waktu; sosial, ekonomi dan politik; kebiasaan (habit); teknologi; usia; dan gender.
A. Memori dan Waktu
Pada artikel House, Habit, dan Memory (Moran, 2006) memperlihatkan hubungan antara house dengan memori, serta membahas bagaimana rumah mempertahankan dan menyampaikan memori dari elemen yang paling rutin dari kehidupan kita dan mengenai hubungan yang kompleks antara memori dengan naratif yang lebih luas mengenai heritage, selera, dan kelas, sementara berada dalam konteks kebijakan publik dan pasar perumahan di pasca PD II Inggris. Selain itu, artikel ini juga mengeksplorasi isu-isu umum mengenai memori dan material culture dalam dunia modern sekarang ini.
Artikel lain yang memperlihatkan pengaruh memori adalah One Widower’s Home: Excavating Some Disturbed Meanings of Domestic Space (Boughey, 2006). Pada artikel ini dilihat hubungan antara kesedihan dan rasa kehilangan dengan arti ruang domestik itu sendiri. Untuk seseorang yang kehilangan pasangan hidupnya, ruang domestik yang dihuninya memiliki makna yang berbeda. Rumah bukan lagi menjadi sekedar barang ekonomi tapi menjadi tempat dimana terdapat perasaan dari pemiliknya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ruang domestik mengandung memori/ingatan, imajinasi dan ruang itu sendiri.
Dalam artikel Building, Dwelling, Moving (Brewster, 2006) dijelaskan mengenai makna dari rumah dengan pengertian bahwa :
1) Rumah merupakan suatu pengantar “before” to “future”
Rumah terbentuk dari suatu sebab dan akibat, sehingga pengguna dapat membayangkan atau memutar kenangan dimana rumah dapat mengirimkan pengguna ke masa lampau maupun penciptaan khayalan masa depan.
2) Rumah merupakan bagian dari perasaan, ingatan dan gambaran
Menurut Bachelard (1997) dan Heidegger (1994) dalam Smyth dan Croft (2006), suatu rumah/tempat tinggal menyimpan suatu cerita. Dalam menghuni ruang bukan hanya sebagai data empiris hidup, namun juga mengenai perasaan, pengingatan dan pembayangan.
3) Rumah menerangkan tempat ‘site’ dan ruang ’space’
Rumah digambarkan sebagai wadah saling mengenal dan situs untuk menempatkan jiwa/manusia.
4) Rumah mempengaruhi bahasa
Menurut Heidegger (1993) dalam Smyth dan Croft (2006), bahasa merupakan bagian ‘milik’ dari rumah, dan ada hubungan dasar antara bahasa, perilaku dan hunian.
B. Sosial, Ekonomi dan Politik
Politik merupakan faktor yang tidak dapat terlepas dari The Poetic of Space (Bachelard, 1994) dan yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana ketidakjelasan entitas dari memori, hasrat dan imajinasi bersinggungan dengan material culture dari rumah, dimana hal ini juga merupakan proses yang sangat berhubungan dengan faktor sejarah dan ekonomi.
Pada artikel Moran (2006) dibahas bagaimana kebijakan mengenai perumahan mempengaruhi peningkatan kepemilikan rumah pada akhir perang dunia kedua, dari 26% pada tahun 1945 menjadi 70% pada tahun 2001. Persepsi masyarakat terhadap rumah pun menjadi berubah, rumah memiliki kepentingan secara simbolis dan budaya, serta kepemilikan rumah menunjukkan kemapanan ekonomi, yaitu kekayaan, stabilitas dan tanggung jawab sebagai anggota masyarakat.
Hal ini berbeda dengan apa yang terjadi pada masyarakat kelas bawah, akibat berkembangnya perencanaan kota, antara tahun 1955 dan 1975 telah dihancurkan 1,3 juta rumah tradisional kelas pekerja dan tiga juta orang dipindahkan tempat tinggalnya ke flat berupa bangunan tinggi tanpa menghiraukan preferensinya. Selain itu, kebijakan perumahan yang mendorong kepemilikan rumah menyebabkan harga diserahkan pada pasar dan pada akhirnya menyebabkan kesenjangan harga yang cukup signifikan antar kawasan. Pada kawasan yang memiliki harga rumah rendah, institusi peminjam uang enggan memberikan cicilan atau dinamakan redlining, sehingga bentuk rumah yang berkembang pada kawasan tersebut adalah council house, rumah sewa privat dan flat yang murah.
Berbeda dengan pembahasan diatas, dalam artikel Troubled Places: Domestic Space in Graphic Novels (Adams, 2006), mencoba membahas mengenai terbentuknya ruang akibat keadaan politik suatu negara yang belum stabil. Palestina masih mengalami tekanan karena ketidak jelasan statusnya dimata dunia. Dalam novelnya, Said (1993) dalam Smyth dan Croft (2006) menceritakan mengenai kehidupan masyarakat yang berada di dalam tekanan. Ruang tersebut kemudian dikategorikan sebagai anxious space atau ruang yang penuh dengan kegelisahan, penantian dan stressful. Bentuk ruang seperti ini dipakai untuk menunjukkan situasi psikologis penggunanya, contohnya ruangan yang sempit, berantakan, atau kosong. Kategori yang kedua adalah threatened spaces atau ruang yang berisikan perasaan terancam, contohnya di camp pengungsian.
C. Kebiasaan (Habit)
Pada artikel Moran (2006) dalam Smyth dan Croft (2006) dinyatakan bahwa “home is the space of habit” atau ruang kebiasaan yang merupakan perpaduan antara harapan sosial dan kerutinan dalam modernitas yang bersinggungan dengan tekstur intim dan detail dari kehidupan individu. Selain itu, ia juga menyimpulkan dari artikelnya bahwa attachment manusia terhadap home bukanlah kepada idealisasi masa lalu seperti yang dikemukakan Bachelard (1994) dalam Smyth dan Croft (2006), tetapi dari kehidupan sehari-hari.
Hal ini disebabkan rumah tidak selamanya tetap dalam hal struktural dan situsnya semata, tetapi rumah adalah entitas yang terus berubah dan memiliki sifat sangat responsif terhadap pengalaman habitual. Rumah merefleksikan status dualitas dari kehidupan sehari-hari yang mengkombinasikan hal yang konkrit dan tekstural dengan hal yang tidak tentu dan bersifat sementara. Brands (1997) dalam Smyth dan Croft (2006) menyatakan bahwa house dan penghuninya saling mempengaruhi setiap hari selama 24 jam dan bangunan tersebut mengumpulkan rekaman keintiman tersebut.
Kebiasaan juga mempengaruhi ruang domestik dalam membuat pengalaman bebas dari makna yang dikendalikan seperti pada industri retro-chic dan desain yang berdasarkan trend. Hal ini dapat terlihat perbedaannya pada show unit yang merupakan contoh dari ruang hunian yang dijual dengan rumah yang sebenarnya ditinggali.
Kebiasaan masyarakat Inggris berimbas pada model penceritaan Carol Ann Duffy (Hughes-Edwards, 2006), ia mencoba mengimajinasikan perasaan hati, mengekspresikan kepada pembaca kenyamanan dari rumah sebagai tempat berlindung, walau terkadang pula memberikan gambaran mengenai kehidupan yang jauh dari keberadaan manusia lain. Hal tersebut menunjukkan bahwa tampilan “house and home” berpengaruh terhadap arti and tujuaan tertentu.
Hubungan ruang privat terhadap penghuni dapat mencerminkan kepribadian dari seorang individu, “emosional, psychological, intellectual, material and physical health”. Rumah juga mempengaruhi persepsi seseorang terhadap status sosial dan sifat permanen penghuni rumah. Dapat pula menyatakan bahwa kepemilikan rumah merupakan bagian dari peningkatan percepatan, orientasi diri, dan pengaruh kapitalisme, sedangkan sewa menunjukkan ketidakpermanenan dan ketidakstabilan, dimana “homelesness” dianggap sebagai simbol kegagalan dan degradasi suatu negara.
C. Teknologi
Teknologi yang berkembang juga mempengaruhi budaya di dalam ruang domestik. Dalam artikel Sonic Architecture: Home Hi-Fi and Stereo(types) (Moy, 2006), terlihat bagaimana perkembangan teknologi, terutama teknologi audio mempengaruhi budaya mendengar di dalam ruang domestik. Perkembangan teknologi audio membuat kebiasaan mendengar yang awalnya bersama-sama, mendengarkan dengan fokus hanya kepada suara saja menjadi berubah ke arah yang lebih privat dan intim.
Budaya mendengarkan musik atau radio saat ini telah berkembang setelah ditemukan dan berkembangnya teknologi audio seperti: pemutar lagu, speaker atau radio. Dari gramophone yang mahal dan dinikmati bersama-sama seluruh anggota keluarga sampai menjadi headphone yang dinikmati oleh satu orang saja.
Semakin lama, audio semakin hadir tidak di ruang bersama namun di ruang privat, seperti kamar tidur ataupun ruang khusus untuk mendengarkan musik. Tak hanya itu, persaingan audio dengan media lain seperti televisi juga mengubah budaya mendengar, dari mendengar yang fokus menjadi mendengar yang sayup-sayup, hanya sebagai suara latar belakang yang membentuk suasana saja.
D. Usia
Dalam artikel A life of Longing Behind the Bedroom Door: Adolescent Space and the Makings of Private Identity (Croft, 2006) dijabarkan bagaimana seorang remaja mengolah kamar tidurnya. Usianya yang masih muda dan labil tercermin juga dari bagaimana seorang remaja ini mendeskripsikan kamar tidurnya tersebut. Hubungan antara dirinya, kondisi fisik badannya dan kamarnya menjadi sangat kompleks karena usia yang masih belum beranjak dewasa namun tidak juga hendak dikatakan sebagai anak kecil lagi.
Kamar tidur bisa menjadi area privat tempat yang melindungi dirinya; menjadi tempat bermain dan menunjukkan kreatifitasnya; menjadi tempat hukuman yang menimbulkan keinginan untuk melarikan diri; menjadi tempat mendandani dirinya; tempat menulis dan mengeluarkan pikirannya; tempat yang dekat dan intim; juga sebagai tempat di dalam tempat yang lebih besar. Kamar tidur anak remaja memiliki dualism yang tidak stabil karena kelabilan pemikiran remaja. Keberadaan anak usia remaja membuat definisi akan sebuah ruang domestik menjadi sangat berbeda.
E. Gender
Tipe rumah Inggris dan interior dalam rumah diambil pada konteks perubahan pasca perang-dunia dengan arti dan fungsi antara ruang domestik dengan pengguna yang besar (Langhamer, 2005 dalam Smyth, 2006). Ditunjukkan pula barang-barang lama/space dalam rumah yang tetap diterapkan/dibawa menjadi patterns and gender roles and social-econmoic faktors.
Dalam sosiologi ruang domestik, yang menjadi perhatian Ruth McElroy (2006) dalam artikelnya Labouring at Leisure: Aspects of Lifestyle and the Rise of Home Improvement adalah perubahan dari pengembangan dan peningkatan pembangunan oleh pemilik pribadi “do-it-yourself”. Karakteristik pemilik terhadap model rumah dipakai sebagai fenomena yang menentukan isu mengenai kelas dan gender pemilik.
Korelasi antara gender dan ruang domestik dijelaskan didalam Childs (2006) yang berjudul Householders: Community, violence and Resistence in Three Contemporary Woman’s Texts, bahwa setiap percakapan menyimbolkan hubungan dengan yang lain, sehingga apa yang muncul pada tiap teks merupakan gambaran dari rumah sebagai posisi dimana “identitas” wanita menjadi pemula dan juga pengakhir percakapan.
Artikel The house … has cancer’: Representations of Domestic Space in the Poetry of Carol Ann Duffy (Hughes-Edwards, 2006) dalam tulisannya juga menggambarkan bahwa rumah merupakan cerminan dari tantangan kehidupan modern, terutama yang merupakan bagian pengalaman dari seorang wanita.
Pembagian ruangan pada abad ke-17 di Belanda, menurut Witold Rybczynski (1998) dalam Smyth dan Croft (2006) memiliki fungsi yang berbeda dan batas antara publik dan privat sangat jelas terlihat. Rumah juga memiliki peraturan ruang akibat meningkatnya pengaruh gender, dengan pengambaran private-ruang singgah wanita “woman”, jauh dari ruangan kerja pria “male”.
II. Ruang Domestik di Asia: Indonesia dan Malaysia
Berdasarkan pemaparan sebelumnya mengenai ruang domestik di Inggris berdasarkan Smyth dan Croft (2006), perlu juga dibahas faktor-faktor yang dominan di negara Asia, dalam kajian ini penulis mengambil contoh di Indonesia dan Malaysia.
Dari tulisan yang berjudul Domestic Space Arrangement of the Private Rental Housing: A Case of Urban Village Housings of Yogyakarta, Indonesia (Hidayah dan Shigemura, 2005), faktor dominan yang mempengaruhi perubahan di dalam ruang domestik adalah ekonomi. Artikel ini melihat latar belakang terbentuknya rumah sewa privat, yaitu berupa desakan untuk mendapatkan pendapatan pokok, pendapatan sampingan, dan pemanfaatan ruang kosong dalam rumah. Berubahnya fungsi rumah menjadi rumah sewa privat membuat ruang domestiknya pun berubah. Dari penelitian diketahui, perubahan ruang akibat rumah sewa privat adalah occupation adjustment, spatial adjustment, dan house extension. Sedangkan pengaruh ruang terhadap pemilik dan penyewa (pemisahan ruang) dikategorikan menjadi maximum separation, moderate separation, dan minimum separation. Implikasinya terhadap pemilik adalah hilangnya ruang akibat pemakaian oleh penyewa.
Berbeda halnya, dengan masyarakat di Malaysia, menurut artikel berjudul Urban Malays’ User-Behaviour and Perspective on Privacy and Spatial Organization of Housing (Hasyim, Ali, dan Samah, 2009) pemilihan ruang dan bangunan modern masih dipengaruhi oleh latar belakang budaya komunitas dan agama. Masyarakat masih menginginkan adanya konsep rumah tradisional yang diterapkan pada bangunan modern. Konsep rumah tradisional yang kental dengan budaya komunitas dan agama masih lekat pada kehidupan masyarakat Malaysia. Budaya komunitas yang mengetengahkan kebersamaan antar tetangga digambarkan dengan adanya ruang publik, ruang privat, dan ruang peralihan. Pemisahan daerah pria dan wanita juga sangat jelas karena latar belakang keagamaan yang mengatur anggota keluarga yang bukan muhrim-nya. Dengan demikian, konsep budaya yang diadopsi masyarakat tidak dapat begitu saja lepas seiring dengan perkembangan modernitas. Pada dasarnya, tetap ruang domestik yang ada dipengaruhi juga oleh budaya dan agama yang dianut oleh masyarakat yang hidup di dalamnya.
III. Kesimpulan
Ruang domestik, dalam hal ini rumah, memiliki hubungan erat dengan budaya, dimana faktor-faktor budaya tersebut mempengaruhi rumah. Faktor budaya yang mempengaruhinya, antara lain: memori dan waktu; sosial, ekonomi dan politik; kebiasaan; teknologi; usia; dan gender. Karena banyaknya faktor yang berkenaan dengan ruang domestik, maka dapat dikatakan bahwa ruang domestik adalah studi lintas disiplin.
Keberadaan ruang domestik berbeda-beda di setiap negara, demikian juga dengan faktor budaya yang mempengaruhinya. Hal ini disebabkan terdapat tiga elemen yang terkait dengan budaya atau menurut Knox (2010), “ways of life” yaitu nilai, norma, dan obyek, dimana keseluruhannya saling terkait. Budaya bukan hanya berupa ide atau gagasan saja, tapi obyek material yang digunakan menyediakan petunjuk mengenai sistem nilai yang ada di masyarakat.
Komposisi pengaruh faktor budaya mempengaruhi ruang domestik yang terjadi di suatu tempat. Di Indonesia, faktor utama pendesak perubahan adalah ekonomi pemilik rumah, sedangkan di Malaysia, faktor utama yang mempengaruhi ruang domestiknya adalah latar belakang komunitas budaya dan agama yang dianut oleh masyarakat.
Berbeda halnya dengan di Inggris, dimana masyarakat Inggris telah mapan dan memiliki sejarah yang panjang. Faktor yang paling dominan mempengaruhi budaya di Inggris adalah sosial, ekonomi dan politik. Pada artikel dalam Our House (Smyth dan Croft, 2006) dapat dilihat bahwa faktor-faktor yang lain, seperti memori, kebiasaan, teknologi, usia, dan gender tidak bisa terlepas dari sosial, ekonomi, dan politik pada masa tersebut.
Hal ini pula yang membedakan budaya antara negara yang satu dengan yang lain, dimana setiap negara memiliki sosial, ekonomi, dan politik yang berbeda.
IV. Referensi
Adams, J. (2006). Troubled Places: Domestic Space in Graphic Novels. In G. Smyth, Our House The Representation of Domestic Space in Modern Culture (pp. 161 - 174). Amsterdam: Rodopi.
Boughey, J. (2006). One Widower's Home : Excavating Some Disturbed Meanings of Domestic Space. In G. Smyth, & J. Croft, Our House : The Representation of Domestic Space in Modern Culture (pp. 227-246). Amsterdam: Rodopi.
Brewster, S. (2006). Building, Dwelling, Moving: Seamus Heaney, Tom Paulin and the Reverse Aesthetic. In G. Smyth, Our House The representation of Domestic Space in Modern Culture (pp. 141 - 159). Amsterdam: Rodopi.
Croft, J. (2006). A Life of Longing Behind the Bedroom Door : Adolescent Space and the Makings of Private Identity. In G. Smyth, & J. Croft, Our House : The Respresentation of Domestic Space in Modern Culture (pp. 209-225). Amsterdam: Rodopi.
Hasyim, A., Ali, H., & Samah, A. (2009). Urban Malays’ User-Behaviour and Perspective on Privacy and Spatial Organization of Housing. International Journal of Architectural Research vol.3 issue 1 , 197-208.
Hidayah, R., & Shigemura, T. (2005). Domestic Space Arrangement of the private rental Housing : A Case of Urban Village Housings of Yogyakarta, Indonesia. Journal of Asian Architenture and Building Engineering , 137 - 142.
Hughes-Edwards, M. (2006). ‘The house […] has cancer’: Representations of Domestic Space in the Poetry of Carol Ann Duffy. In G. Smyth, Our House The Representation of Domestic Space in Modern Culture (pp. 121 - 139). Amsterdam: Rodopi.
Knox, Paul, Pinch, Steven. (2010). Urban Social Geography. Harlow: Pearson Education Limited.
McElroy, R. (2006). Labouring at Leisure: Aspects of Lifestyle and the Rise of Home Improvement. In G. Smyth, & J. Croft, Our House The Representation of Domestic Space in Modern Culture (pp. 85 - 101). New York: Amsterdam.
Moran, J. (2006). House, Habit, and Memory. In C. J. Smyth G, Our House: The Representation of Domestic Space in Modern Cultures. Amsterdam: Rodopi.
Moy, R. (2006). Sonic Architecture : Home Hi-Fi and Stereo(types). In G. Smyth, & J. Croft, Our House : The Representation of Domestic Space in Modern Culture (pp. 196-208). Amsterdam: Rodopi.
Perkins, Harvey C.; Thorns, David C.; Winstanley, Ann; Newton, Bronwyn. (2002). The Study of "Home" From A Social Scientific Perspective: An Annotated Bibliography 2nd Edition.
Rapoport, A. (1977). Human Aspects of Urban Form: Towards a Man-Environment Approach to Urban Form and Design. Pergammon Press.
Rapoport, A. (2001). Theory, Culture and Housing. Housing, Theory and Society Vol. 17 , 145-165.
Rybczynski, W. (1986). Home : A Short History of an Idea. -: Pocket Books.
Smyth, G., & Croft, J. (2006). Our House : A Representation of Domestic Space in Modern Culture. Amsterdam: Rodopi.
No comments:
Post a Comment