Kent, S (1990), Domestic Architecture and the Use of Space: An Interdisciplinary Cross-Cultural Study, New York: Cambridge University Press
Bab 2 – System of Activities and System of Settings
Untuk menganalisis hubungan antara budaya dan lingkungan binaan, maka dapat digunakan variabel sosial dengan sekuens tertentu yang semakin spesifik dari budaya melalui world views dan nilai, sampai kepada gaya hidup dan aktivitas dan melngamati ekspresi sosial.
Dua cara untuk “dismantling” konsep dari budaya:
Architecture encloses behavior tightly dengan demikian aktivitas akan cenderung membentuk arsitektur.
Aktivitas merupakan ekspresi langsung dari gaya hidup dan juga budaya.
Setiap aktivitas dapat dilihat melibatkan empat komponen (Rapoport 1977, 1980a, 1982a, 1983a, 1986a, 1985a):
- Aktivitas itu sendiri (the activity itself)
- Bagaimana aktivitas tersebut dilaksanakan (how it is carried out)
- Bagaimana aktivitas tersebut dihubungkan dengan aktivitas lainnya dan tergabung menjadi sistem aktivitas (how it is associated with other activities and combined into activitiy systems)
- Makna dari activity (the meaning of the activity)
Berbagai macam jenis dari lingkungan binaan dimaksudkan untuk mengakomodasi hanya beberapa aktivitas saja; dihubungkan dengan budaya maka akan lebih intim pada akhirnya.
Perbedaan biasa yang terjadi antara “fungsi” dan “makna” merupakan hal yang salah; makna bukan bagian dari fungsi, tetapi merupakan fungsi yang paling penting.
Orang tidak dapat melihat dari satu aktivitas tunggal saja, melainkan harus melihat dari sistem aktivitas (systems of activities)
Activity systems take place in systems of settings
A setting is thus a milieu which defines a situation, reminds occupants of the appropriate rules and hence of the ongoing behaviors appropriate to the situation defined by the setting, thereby making co-action possible. (Barker and Goffman) The setting frequently provides the appropriate props for these behaviors and activities (cf. Rapoport 1979a, 1982a, 1988)
Terdapat dua hal yang dihiraukan oleh Barker dan Goffman:
- Setting dan pembatasnya didefinisikan secara budaya (lebih sering sebagai ekspresi dari cognitive domains [Rapoport 1976a, 1976b, 1977]) dan juga aturan yang berlaku di dalamnya.
- Kualitas temporal dari setting berbagai macam sesuai dengan budaya, settings are thus culturally variable. Aktivitas dan setting terhubung melalui makna
Aktivitas tidak hanya bervariasi dalam keempat hal di atas-aktivitas itu sendiri dan bagaimana dilaksanakan (aspek instrumental), bagaimana dihubunkan ke dalam sistem (berkaitan dengan komunikasi) dan maknanya-semuanya diorganisasikan dalam ruang. Hal tersebut juga sangat bervariasi dan diorganisasikan dalam waktu; terdapat komponen temporal yang tak dapat dihindarkan.
Komponen temporal mengenalkan kemungkinan bahwa organisasi dalam waktu dapat menggantikan organisasi dalam ruang (Rapoport ,1977), contohnya ruang kelas.
Konfik dan masalah dalam penjadwalan dapat muncul pada organisasi temporal dari sistem aktivitas
Many activities which take place within what we called a dwelling may occur in a widely dispersed system of settings in another culture which also, apparently has dwellings. The units to be compared, therefore, are not the two dwellings but the system of settings within which a particular system of activities takes place. Variations can also occur within the dwelling itself.
Redundancy of cues goes up as the scale, size, complexity, and heterogeneity of societies and systems go up.
Berikut merupakan hubungan antara skala, kompleksitas, dan heterogenitas, perbedaan dari setting dan redundancy of cues:
Contoh "System of Activities": Halal Bihalal
Aktivitas 1:Halal Bihalal Kel. Ama Banjar, Bumi Sangkuriang – Bandung
- Kel. Ama Banjar merupakan keluarga besar yang beranggotakan sekitar 200 orang
- Penyelenggara atau panitia acara setiap tahun bergantian diantara keluarga.
- Kegiatan dilaksanakan dengan sangat formal
- Pada umumnya dilangsungkan di gedung pertemuan
- Terdapat meja penerimaan tamu dan among tamu (yang menerima tamu),
- Susunan acara terencana dan tersusun dengan rapi:seperti foto bersama, susunan acara yang terencana (dari mulai sambutan hingga permainan), makanan berupa prasmanan, door prize, dan sebagainya.
Aktivitas 2: Halal Bihalal di Bukit Cimanggu City, Bogor
- Aktivitas ini dilaksanakan bergantian antara setiap keluarga
- Anggota keluarga yang terlibat kurang lebih 75 orang
- Kegiatan yang dilaksanakan bersifat semi formal pada rumah tinggal salah satu anggota keluarga. Susunan acara dimulai dari kata sambutan, doa, makan, dan beramah tamah.
- Tempat tinggal seorang nenek
- Anggota keluarga sekitar 30 orang
- Setiap hari raya Idul Fitri seluruh keluarga selalu mengunjungi rumah ini.
- Tidak terdapat susunan acara seperti halnya pada dua kegiatan sebelumnya, hanya sekedar foto dan beramahtamah.
"Halal Bihalal" - Formal, Semi Formal, Informal --> Berbeda antara ketiganya
Ekspresi sosial dari Budaya:
- Struktur keluarga dan kinship
- Institusi
- Status
- Peran
- Jaringan sosial Kelompok, dsb
Dari ketiga aktivitas dapat dilihat perbedaannya melalui sekuens variabel sosial dari suatu aktivitas ke gaya hidup, hingga nilai dan worldview, yang pada akhirnya adanya perbedaan budaya. Cara lebih mudah menurut Rapoport adalah dengan melihat dari ekspresi sosial dari budaya.
Aktivitas merupakan ekspresi langsung dari gaya hidup dan juga budaya. Oleh karena itu, dalam membahas budaya maka yang dilihat pada pembahasan ini adalah aktivitas.
Aktivitas yang dipilih untuk melihat budaya adalah “Halal Bihalal” yaitu suatu acara yang dilaksanakan setiap tahun sekali pada hari raya Idul Fitri. Pada dasarnya inti kegiatan disini adalah berkumpul dengan keluarga untuk mempererat silaturahmi.
Setelah melihat foto-foto diatas dapat dilihat tiga aktivitas “Halal Bihalal”. Secara tidak langsung dapat dilihat bahwa setiap aktivitas di atas berbeda, sehingga budayanya pun akan berbeda.
Ketiga sistem setting di atas dapat dilihat perbedaannya
- Bumi Sangkuriang merupakan sebuah club house yang terletak di wilayah Utara Bandung dan berada dalam kawasan elit.
- Bukit Cimanggu City merupakan perumahan real estate di kota Bogor yang termasuk ke dalam jenis gated housing.
- Jl. Ence Azis terletak di pusat kota Bandung dengan kepadatan wilayah yang tinggi.
Ketiga kegiatan tersebut terjadi pada ketiga setting yang berbeda dan berdasarkan bab 2 buku yang dijadikan acuan:
- Aktivitas merupakan ekspresi langsung dari gaya hidup dan juga budaya.
- System of settings take place in system of activities dan aktivitas
- Setting terhubung melalui makna, sehingga ketiga aktivitas di atas selain memiliki setting yang berbeda juga memiliki “makna” yang berbeda.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa hubungan antara budaya dan lingkungan binaan dapat dilihat dari variabel yang paling spesifik yaitu “aktivitas” dan terjadinya aktivitas pada setting yang berbeda akan memberikan “makna” yang berbeda.
Selain contoh pada aktivitas “halal bihalal” pada slide berikutnya, untuk melihat hubungan antara lingkungan binaan dan budaya dapat menggunakan contoh hunian pada slide berikut.
Contoh “System of Setting”: Kawasan Perumahan
Spring Hill Golf Residence, Kemayoran, Jakarta
Pondok Pucung, Bintaro, Tangerang
Hunian pada slide 21-22 merupakan kompleks perumahan mewah dengan konsep gated housing di kawasan Kemayoran Jakarta. Secara fisik, perbedaan perumahan ini terletak pada penataan kawasannya, dimana lantai dasar di depan rumah berupa taman dan jalur pedestrian, sedangkan jalan untuk mobil berada di basement.
Hunian pada slide 23 merupakan rumah yang berada pada perumahan di kawasan Bintaro, Tangerang. Seperti halnya kawasan perumahan pada umumnya tidak melalui satu pintu seperti contoh sebelumnya.
Dari kedua contoh di atas, dapat diketahui bahwa keduanya merupakan sistem setting yang berbeda, walaupun fungsinya sama yaitu sebagai kawasan rumah tinggal.
Dari pembahasan sebelumnya, dapat diketahui bahwa terjadi aktivitas yang berbeda antara keduanya, contohnya pada gated housing kita tidak dapat melihat pedagang atau tukang sayur melewati rumah, tamu tidak bisa dengan leluasa memasuki kawasan perumahan, dan sebagainya.
Aktivitas yang berbeda akan menghasilkan budaya yang berbeda karena aktivitas merupakan ekspresi dari budaya.
Dapat dilihat juga dari variabel sosial lainnya seperti: nilai, worldview, dan gaya hidup. Dua contoh perumahan tersebut masing-masing memiliki variabel sosial yang berbeda.
Dengan demikian, hubungan antara lingkungan binaan dan budaya dapat dilihat dari variabel sosial (aktivitas, gaya hidup, nilai, worldview) dan juga ekspresi sosial (struktur keluarga, institusi, peran, status, jaringan sosial, dsb.
Hal ini dapat dilihat dengan jelas pada dua contoh sebelumnya yaitu berupa aktivitas “Halal Bihalal” dan setting “kawasan hunian”. Keduanya memperlihatkan bagaimana lingkungan binaan dengan budaya.
No comments:
Post a Comment